Cara milih lampu dinding tenaga surya: baca panelnya, bukan jumlah LED-nya
Terbit 4 November 2026 · ditulis Eko MardiatnoLampu dinding tenaga surya dijual lewat satu angka: 4 LED, 6 LED, 8 LED, 10 LED. Angka itu yang paling gampang dibandingin, jadi itu yang dipajang. Masalahnya, jumlah LED nentuin seberapa terang, bukan seberapa lama. Yang nentuin dia masih nyala jam 2 pagi itu panel surya dan baterainya — dan dua angka itu justru paling sering disembunyiin di paling bawah deskripsi.
1. Hitung dulu panel vs baterainya
Dua angka yang harus kamu cari di deskripsi: watt panel surya dan kapasitas baterai (mAh).
Panel biasanya ditulis dalam volt dan miliampere, misalnya "2V/200mA". Kaliin aja: 2 × 0,2 = 0,4 watt. Itu panelnya.
Baterai ditulis dalam mAh. Baterai lithium 600mAh pada 3,7 volt itu kira-kira 2,2 Wh energi.
Sekarang bandingin. Panel 0,4 watt dijemur 6 jam penuh ngasih sekitar 2,4 Wh — itu pas-pasan buat ngisi baterai 2,2 Wh satu kali, dan itu pun kalau matahari full seharian tanpa ketutup awan. Artinya lampu model ini dirancang buat satu malam per satu hari jemur, bukan buat nyimpen cadangan.
Jadi kalau ada listing yang nulis "nyala 72 jam terus-terusan" di baterai 600mAh, itu angka marketing. Yang realistis adalah angka di blok spesifikasi, biasanya 6–10 jam.
2. Cek IP rating-nya, dan cek cuma ada satu angka
IP rating itu dua digit. Digit pertama debu, digit kedua air. Buat lampu luar yang kena hujan langsung:
- IP44 — cuma tahan cipratan, harus di bawah atap atau kanopi
- IP65 — tahan semprotan air dari segala arah, aman kena hujan biasa
- IP67 — tahan direndam sementara, aman kena hujan deras dan genangan
Yang sering kejadian: satu listing nulis dua angka berbeda. Blok spesifikasi nulis IP65, blok fitur nulis IP67. Itu bukan detail sepele — bedanya nentuin boleh dipasang di tembok terbuka atau harus di bawah kanopi. Tanya penjual, dan simpan chat-nya buat klaim garansi.
3. Arah cahaya nentuin lampunya buat apa
Ini yang bikin orang kecewa padahal barangnya nggak rusak. Lampu solar dinding ada dua tipe arah cahaya, dan fotonya mirip.
- Up–down wall washer — LED nembak ke atas dan ke bawah, bikin dua kerucut di permukaan tembok. Fungsinya menghias bidang tembok
- Floodlight atau spotlight — LED nembak ke depan dan ke bawah, nerangin lantai dan area di depan lampu
- Lampu sensor gerak — nyala terang pas ada orang lewat, redup atau mati sisanya
Kalau tujuan kamu nerangin jalan setapak, carport, atau halaman biar nggak gelap pas jalan, up–down wall washer bakal bikin kecewa: yang terang cuma temboknya, lantainya tetep remang. Sebaliknya kalau yang kamu mau tampilan tembok yang bagus difoto, floodlight malah kelihatan murah.
4. Posisi tembok nentuin lampunya hidup atau nggak
Lampu solar dinding nempel rata di tembok, dan panelnya ikut ngadep ke arah yang sama dengan temboknya. Artinya panel itu cuma keisi kalau matahari langsung nyinarin tembok tersebut.
Sebelum beli, berdiri di depan tembok yang mau kamu pasangi dan perhatiin seharian:
- Tembok sisi timur — kena matahari pagi, biasanya cukup
- Tembok sisi barat — kena matahari sore, biasanya cukup dan paling kuat
- Tembok sisi utara atau selatan — kena serong, hasilnya tergantung musim
- Tembok di bawah kanopi, teritisan lebar, atau ketutup pohon — hampir nggak pernah keisi, jangan dipaksain
Kalau temboknya teduh seharian, yang kamu butuhin lampu solar dengan panel terpisah berkabel, bukan model all-in-one kayak ini.
5. Baca harga paket 2 pcs-nya, jangan percaya kata promo
Paket isi 2 sering dilabelin promo padahal diskonnya tipis. Cara ngeceknya satu baris: bagi harga paket dengan jumlah isinya, lalu bandingin sama harga satuan.
Contoh dari listing yang aku bedah: satuan Rp56.900, paket 2 pcs Rp109.791. Dibagi dua jadi Rp54.896 per lampu — hemat Rp2.004, sekitar 3 persen. Itu bukan diskon paket, itu pembulatan.
Lakuin perhitungan yang sama buat varian warna. Di listing yang sama, 6 LED cahaya putih dijual Rp50.658 sementara yang cahaya hangat Rp56.900. Selisih Rp6.242 cuma karena warna cahaya, dan nggak satu pun dijelasin kenapa.
Terakhir, waspadai nama varian yang nggak dijelasin. "Plus", "PRO", "PRO+", "PROMAX" — kalau selisihnya sampai Rp39.000 tanpa satu kalimat pun yang nerangin bedanya apa, itu pertanyaan buat penjual sebelum checkout, bukan setelah.
Checklist sebelum checkout
- Cari watt panel dan mAh baterai di deskripsi — kalau dua angka ini nggak ditulis sama sekali, skip listingnya
- Cocokin klaim jam nyala sama kapasitas baterai, dan percaya angka yang lebih kecil
- Pastikan IP rating-nya cuma disebut satu angka di seluruh halaman
- Tentukan kamu butuh nerangin tembok atau nerangin lantai, lalu pilih tipe arah cahayanya
- Perhatiin tembok tujuan kamu seharian penuh, pastikan kena matahari langsung minimal 4 jam
- Bagi harga paket dengan isinya sebelum percaya kata promo

